
Blitar, 21 April 2026 – Pemandangan berbeda terlihat di lapangan utama MTsN 9 Blitar pagi ini. Dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026, seluruh siswa, guru, dan karyawan tampak anggun dan gagah mengenakan berbagai macam pakaian bernuansa tradisional. Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini kembali dihidupkan melalui perhelatan upacara bendera yang penuh khidmat dan warna.
Meski mengenakan busana adat seperti kebaya dan batik, hal tersebut tidak menyurutkan kedisiplinan warga madrasah dalam mengikuti setiap prosesi upacara.
Upacara kali ini menjadi panggung bagi para pengurus OSIM MTsN 9 Blitar. Bertindak sebagai petugas upacara, mereka menjalankan tugas dengan sangat profesional. Formasi pengibar bendera yang mengenakan pakaian tradisional memberikan sentuhan estetika tersendiri tanpa mengurangi kekhusyukan saat Sang Merah Putih dinaikkan ke ujung tiang.
Bertindak sebagai Pembina Upacara, Ibu Dwi Cahya Puspita, memberikan amanat yang menyentuh hati sekaligus membangkitkan motivasi. Beliau menekankan bahwa semangat Kartini di tahun 2026 ini harus diwujudkan melalui kecerdasan dalam berliterasi dan kemandirian karakter.
“Hari Kartini bukan sekadar tentang pakaian tradisional yang kita kenakan hari ini, melainkan tentang menghidupkan api perjuangan beliau dalam menuntut ilmu. Untuk siswi MTsN 9 Blitar, jadilah perempuan yang berwawasan luas, santun dalam berakhlak, dan berani bermimpi setinggi langit di era digital ini,” pesan Ibu Dwi Cahya Puspita di hadapan peserta upacara.
Kepala MTsN 9 Blitar, Bapak Mashudi, M.Pd., mengapresiasi antusiasme seluruh warga madrasah. Menurut beliau, penggunaan pakaian tradisional dalam upacara ini merupakan upaya madrasah untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan melestarikan budaya bangsa kepada generasi muda.
Setelah upacara selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan berbagai kegiatan internal kelas untuk mempererat kebersamaan. Kemeriahan warna-warni busana tradisional di lapangan MTsN 9 Blitar hari ini menjadi simbol bahwa semangat kesetaraan dan pendidikan yang diperjuangkan Kartini tetap abadi dan tumbuh subur di lingkungan madrasah.

Beri Komentar